Bimbingan Konseling untuk Mengatasi Permasalahan-permasalahan Pribadi dan Sosial Peserta Didik

 Bimbingan dan konseling merupakan hal yang penting dalam membentuk kepribadian peserta didik. Seperti halnya dalam setiap lembaga pendidikan diperlukan adanya bimbingan dan konseling bagi peserta didik untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik. Setiap lembaga pendidikan pasti melakukan berbagai inovasi pembelajaran untuk menciptakan peserta didik yang memiliki kepribadian positif.

Pada realitanya banyak terjadi kasus pelanggaran tata tertib disekolah. Tata tertib sendiri menjadi beban bagi peserta didik. Padahal di setiap lembaga pendidikan di dunia ini pasti memiliki tata tertib yang harus dilaksanakan. Semua hal perlu aturan agar dapat terkontrol dan terorganisir di jalan yang semestinya. Begitu juga dengan lembaga pendidikan, tata tertib di ciptakan agar semua pihak sekolah khususnya peserta didik mendapatkan proses belajar mengajar yang efektif dan lebih baik. Bayangkan saja jika di sekolah tidak ada tertib pasti akan mengalami kekacauan seperti jalan lalu lintas yang tidak punya aturan. Akan terjadi kemacetan, kecelakaan dan marabahaya yang lainnya (Wati, 2018: 93).

Terdapat beberapa masalah yang mempengaruhi kepribadian sosial peserta didik yang menjadi indikator harus diadakannya bimbingan dan konseling di sekolah atau lembaga pendidikan.

Masalah yang terhimpun dalam persoalan pribadi-sosial meliputi masalah hubungan interaksi dengan orang lain (orang tua, saudara, teman, guru dan masyarakat di lingkungan individu), masalah pengaturan diri baik dalam bidang kerohanian, perawatan diri (jasmani dan rohani), penyelesaian konflik dan sebagainya(Hidayat, 2019: 235-250). Untuk menerapkan tata tertib dengan baik dan berjalan dengan baik, diperlukan sikap kepribadian positif dalam diri peserta didik yang bersifat positif.

Untuk menumbuhkan kepribadian yang positif diperlukan adanya bimbingan dan konseling di lembaga sekolah dari sedini mungkin, misalnya pada lembaga pendidikan SD agar kepribadian tersebut tertanam dalam diri peserta didik dari sejak dini dan menjadikan terbiasa berperilaku baik ke depannya.

Pada dasarnya bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang (individu) atau sekelompok orang, agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini mencakup 5 fungsi pokok yaitu: Pertama Mengenal diri sendiri dan lingkungan, Kedua Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, Ketiga mengambil keputusan, Keempat mengarahkan diri, Kelima, Mewujudkan diri (Prayitno, 1987: 35)

Bimbingan konseling dapat diartikan sebagai seperangkat program pelayanan bantuan yang dilakukan melalui kegiatan perorangan dan kelompok untuk membantu peserta didik melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan berkembang secara optimal, serta membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya. Bimbingan juga bisa membentuk kepribadian peserta didik memiliki sifat yang positif dan sosial yang baik.

Menurut Azwar dan Purwanto dalam jurnal Umar Sulaiman. Azwar menjelaskan bahwa sikap sebagai suatu kecenderungan potensi untuk bereaksi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons. Sedangkan Purwanto mengatakan bahwa sikap adalah suatu cara berpikir terhadap suatu perangsang atau. Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi. Berdasarkan penjelasan Azwar dan Purwanto dapat disimpulkan bahwa sikap adalah cara berpikir yang cenderung untuk bereaksi atau merespon karena adanya stimulus atau perangsang dengan cara tertentu (Sulaiman, 2014: 204)

Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial menurut Syamsu Yusuf dalam jurnal Ina Ambar Wati secara rinci menyebutkan tujuan yang ingin dicapai dari layanan bimbingan pribadi sosial adalah sebagai berikut: (Wati, 2018: 99-100)

a. komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada tuhan yang maha esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya.

b. Sifat toleransi terhadap umat beragama lain dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan baik fisik maupun psikis.

e. Memiliki sifat positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.

g. bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat dan harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship) yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahmi dengan sesama manusia.

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal maupun dengan orang lain.

k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

Bimbingan konseling berfungsi untuk:

1. Membantu peserta didik untuk memahami dirinya dan lingkungan sekitarnya agar dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

2. Memberi kemudahan dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang seluruh aspek dalam diri peserta didik.

3. Peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

4. Membantu peserta didik untuk menentukan kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karier yang sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat.

5. Membantu proses mengajar untuk menyesuaikan program pendidikan dengan latar belakang pendidikan, kemampuan, minat, dan bakat peserta didik.

6. Mengantisipasi berbagai masalah yang dapat terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, agar tidak dialami oleh peserta didik.

7. Memperbaiki kekeliruan peserta didik dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak dengan melakukan intervensi (memberi perlakuan) agar pola pikir peserta didik menjadi sehat, rasional dan perasaan yang tepat kepada tindakan yang produktif dan normatif.

8. Pemberian bantuan kepada peserta didik yang telah mengalami masalah pribadi, sosial, belajar, maupun karier.

9. Membantu peserta didik agar dapat menjaga dan mempertahankan situasi kondusi yang telah tercipta dalam dirinya agar terhindar dari penurunan produktivitas diri.

10. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dengan memfasilitasi perkembangan peserta didik. Untuk itu, program bimbingan harus sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Dalam kehidupan sehari-hari peserta didik memiliki gejala-gejala yang menjadi indikator peserta didik tersebut memiliki kepribadian yang unggul. Menurut botterman F dalam jurnal Darshana, siswa yang menunjukkan gejala seperti bisa menyelesaikan sesuatu dengan baik dan berhasil, menyelesaikan tugas dan memerlukan usaha yang diikuti keahlian dan keterampilan, untuk memecahkan suatu masalah yang sulit, mampu melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain. Maka siswa tersebut dapat dikatakan mendemonstrasikan gejala pribadi unggul, (Dharsana, 2017: 119-120)

Dalam suatu lembaga sekolah pasti terdapat beberapa masalah tentang keadaan peserta didik yang kurang baik dalam masalah kepribadian dan sosialnya baik dalam perilaku sehari-hari di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Di sini Bimbingan Konseling sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan peserta didik di sekolah. Adanya bimbingan konseling di sekolah akan lebih mudah dalam pendekatan untuk mengidentifikasi dan menangani masalah-masalah yang di alami peserta didik terkait dengan masalah pribadi dan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Umar Sulaiman, “Analisis Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Beragama SiswaKasus Pada Siswa SLTP Negeri I dan MTs Negeri Bulukumba”,Jurnal Auladuna,(Vol. 1 No. 2 Desember 2014), 204.

Prayitno, Profesional Konseling dan Pendidikan Konselor, (Padang: FIP IKIP, 1987), hlm. 35.

Ina Ambar Wati, “Layanan Bimbingan dan Konseling Pribadi Sosial dalam Menumbuhkan Sikap Positif Siswa”, Jurnal Al-Tazkiah,(vol. 7 No. 2 Desember 2018)

Arif Hidayat, “Layanan Bimbingan dan Konseling Pribadi Sosial”, Jurnal bimbingan Islam, (vol.1 No. 2 Desember 2019) hlm.235-250

I Ketut Dharsana, “Personal Development Counseling Through Superior Cognitive with Modeling Vasudeva Krishna and Glorious Bhisma”, Bisma The Journal of Counseling, (vol.1 No. 2, 2017) hlm. 119-120


UNISNU JEPARA

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Ujian Tengah Semester Bimbingan dan Konseling

Nama: Ahmad Miftahul Falah

NIM: 201330000645





Komentar